Nabi Muhammad SAW Sebagai Nabi Terakhir

Sebagai seorang Muslim, diantara doktrin yang wajib dipegang dan dijunjung tinggi adalah mengimani risalah nabi Muhammad saw. Doktrin/Keyakinan yang merupakan bagian dari aqidah islam ini yang sangat prinsip dan tidak bisa ditawar-tawar. Mustahil seseorang disebut sebagai Muslim, bila mengingkari nabi Muhammad saw.

Meyakini kerasulan dan kenabian nabi saw menuntun seorang Muslim untuk bersikap bagaimana seharusnya. Seorang Muslim wajib meyakini bahwa beliau saw adalah nabi Alloh, rasul dan hamba-Nya yang terpilih. Seutama-utama beliau, beliau adalah manusia, bukan malaikat apalagi Tuhan. Beliau makan, minum, tidur, menikah, bercanda, bersedih, marah, dan berjalan di pasar. Beda antara kita dengan beliau adalah risalah kenabian yang diterimanya.

???? ???????? ????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ?????????? ?????? ???????

” Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". (QS. Alkahfi 110)

Kini banyak faham dan pemikiran menyimpang di tengah-tengah kita. Faham atau pemikiran menyimpang itu menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan. Lebih berbahaya lagi, pemikiran sesat itu banyak diekspos dan disebarluaskan melalui media cetak dan televisi. Bahkan, disponsori dan didukung oleh orang cerdik pandai, bukan orang bodoh atau awam.

Di antara faham sesat yang menghantui ummat islam adalah masalah menyikapi kerasulan Muhammad saw.

Setidaknya ada 2 faham sesat yang sudah pasti menyimpang dalam masalah ini:

Pertama: Nabi Muhammad adalah seorang Nabi tapi tetap manusia biasa, berarti dia tidak sempurna dan bisa dikritisi.

Faham ini dimotori oleh para orientalis barat, yaitu orang-orang kafir yang belajar islam. Anehnya, sebagian orang islam menelan mentah-mentah faham ini. Mereka adalah orang-orang yang terkontaminasi virus liberalisme dan sekulerisme. Kata mereka, konsekuensi dari kemanusiaan nabi, tidak mustahil beliau keliru dalam menyampaikan wahyu Alloh. Bisa karena lupa atau salah ijtihad. Oleh karenanya, semua yang diriwayatkan dari beliau boleh diterima atau ditolak, bahkan dikritik sekalipun. Semua itu sah-sah saja. Menerima sepenuhnya sabda nabi menurut mereka, sama saja dengan mengkultuskan beliau. Padahal itu tidak boleh.

Betapa bodohnya mereka ini, padahal jelas sekali dalam surat Al-Kahfi di atas, bahwa memang betul nabi adalah manusia biasa. Tapi ingat, beliau adalah manusia yang diberi wahyu. Beliau berprilaku semata-mata atas bimbingan wahyu tersebut. Pun seandainya beliau keliru bersikap, sudah pasti akan langsung ditegur oleh Alloh SWT. Bukankah seorang atasan akan menegur bawahannya bila tidak serius bekerja. Seorang guru menegur anak didiknya yang malas belajar. Hal semacam ini diterima oleh akal sehat. Teguran Alloh kepada nabi saw merupakan bukti kemaksuman beliau. Bahwa beliau dijaga oleh Alloh dari kesalahan, seperti koreksi Alloh saat nabi saw tidak menerima Abdulloh ibnu Maktum yang buta dengan baik, tapi lebih melayani pemuka Quraish. Asumsi beliau, jika pemuka quraish itu masuk Islam tentu itu lebih menguntungkan. Lalu turunlah surat Abasa yang langsung menoreksi kekhilafan beliau.

Kedua, meyakini ada Nabi setelah nabi Muhammad saw.

Faham ini sangat berbahaya, karena menentang ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabi saw. Kaum Muslimin seantereo jagad pun sudah bersepakat bahwa Muhammmad saw adalah nabi dan rasul terakhir.

??? ????? ????????? ????? ?????? ???? ??????????? ???????? ??????? ??????? ????????? ????????????? ??????? ??????? ??????? ?????? ????????

” Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab 40)

? ??? ????? ?? ???? ?????? ?????? ???? ???? ??? ???, ? ??? ???? ??????? ?? ??? ????

Dan sesungguhnya akan muncul dari ummatku 30 orang pendusta semuanya mengaku nabi, dan aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.” (HR. Muslim)

?? ??????? ??????? ?? ??????? ??? ???? ???? ??? ???

Sesungguhnya risalah dan kenabian telah terputus, maka tiada nabi dan rasul sesudahku” (HR. Ahmad)

Dalam Tafsir Al-Qur’anil Adzim, Al-Imam Ibnu Katsir menegaskan bahwa hadits yang membahas masalah ini sangat banyak. Diantara nikmat Alloh bagi para hamba-Nya adalahdiutusnya Muhammad saw kepada mereka. Kemudian di antara kemuliaan nabi kata beliau, ditutupnya pintu kenabian dan kerasulan dengannya, disempurnakan agama ini baginya. Sudah banyak bukti bahwa tiada nabi sesudah beliau. Ketahuilah, siapapun yang mengaku-ngaku dirinya memperoleh kedudukan itu, dia jelas-jelas adalah pembohong besar, dan Dajjal yang sesat lagi menyesatkan.

Amatlah benar nubuat dari Rasulullah saw. Sejak dulu hingga sekarang banyak orang mengaku berpangkat nabi. Terhitung dari Musailimah Al-Kazzab hingga Ahmad musoddeq si pelatih bulutangkis. Ada juga wanita mengaku nabi seperti Lia eden alias Lia aminuddin. Sekarang juga tengah ribut-ribut urusan Ahmadiyah. Sekte yang disesatkan oleh semua otoritas ulama di negara-negara Muslim, bahkan dilarang berhaji oleh Kerajaan Saudi.

Mirza Ghulam Ahmad, kelahiran Qadian-India 13 Februari 1835, mengaku menerima suara dari langit pada bulan Maret 1882 yang menyatakan diangkatnya Mirza Ghulam sebagai "Ma'mur Minallah" atau "Utusan Allah" dan mengklaimkan diri pula sebagai seorang Mujaddid (pembaharu agama), yang dilanjutkan pada awal tahun 1891 Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan bahwa dirinya telah diangkat oleh Allah Swt sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau'ud atau Isa yang dijanjikan.
(Sumber : http://thewww.com/ahmadina/sejarah.htm yang saat ini sudah blank)


Selain itu juga ia mengaku dirinya sebagai seorang Juru Selamat dari umat Budha (Reinkarnasi Budha), umat Hindu (Kalky Authar), umat Kong Hu Chu, umat Zoroaster dan tentu saja umat Kristen berdasarkan klaim datangnya Jesus untuk mendekatkan kerajaan langit dan bumi.

Akidah Islam jelas, nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir, titik. Tidak ada nabi setelah beliau, baik itu yang membawa syariat atau bukan. Kendatipun Nabi isa as kelak akan turun di akhir zaman, hal itu bukan berarti beliau nabi yang terakhir. Sebab beliau membawa risalah Islam dan dahulu beliau diutus sebelun Nabi saw, hanya saja beliau diangkat oleh Alloh ke langit.

Dalam menyikapi faham dan pemikiran sesat semacam ini perlu ditempuh cara-cara yang bijak dan dialogis, menyeru dengan hikmah dan mauizah hasanah. Biarkanlah aparat pemerintah yang menyelesaikan. Namun, ummat harus selalu waspada dan mawas diri. Kaum Muslimin boleh-boleh saja protes selama itu dalam koridor syar’i. Masyarakat diharapkan menghindari prilaku anarkhis atau kekerasan karena bisa mendatangkan mudarat lain yang tidak kalah besar. Ummat islam yang membela akidahnya malah dituduh pembuat onar dan difitnah bermacam-macam.  Hadanallohu wa iyyakum ajmain.

Oleh: Habib Ziadi, S.PdI
Pengasuh Ponpes Daerul Muhibbin NW Mispalah Praya LOTENG NTB

Peliculas Online

Tidak ada komentar: