Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Umar dan Sepotong Kain

Ada sebuah kisah tentang seseorang yang bekerja di sebuah instansi negara di negeri ini. Ketika baru beberapa pekan dia bekerja di instansi tersebut, ia ditegur oleh atasannya karena yang bersangkutan memakai celana sedikit di atas mata kaki. Hanya beberapa centimeter saja di atas mata kaki. Sang atasan memanggil yang bersangkutan karena karyawan-karyawan lainnya mulai banyak membicarakan yang bersangkutan. Oleh atasannya, orang itu ditanya dengan sopan,”Kenapa mas fulan memakai celana yang sepertinya di atas mata kaki yang orang-orang menyebutnya celana ngatung?”

Seseorang tersebut pun tersenyum mendengar pertanyaan dari atasannya. Ia kemudian menjelaskan sedikit demi sedikit alasannya kenapa ia mengenakan celana yang sedikit sekali di atas mata kaki. Mendengar penjelasan orang itu, sang atasan pun memaklumi dan menasehatkan agar mempertahankannya.

Sekitar ribuan tahun silam, ada kisah menarik tentang sepotong kain di zaman Umar bin Khattab RA mendekati ajal. Ketika itu, Umar bin Khattab RA berada di hari menjelang kematiannya. Keadaan Umar benar-benar berada dalam keadaan yang parah dan kepayahan. Sampai-sampai ada sebagian kaum muslimin yang berkata, "Aku khawatir ia akan tewas."

Setelah itu, dibawakanlah kepada Umar minuman nabidz agar diminum oleh beliau.  Beliau pun langsung meminumnya, namun minuman tersebut keluar kembali dari lubang tikaman di perutnya.
Kemudian dibawakan kepada beliau susu dan beliau pun meminumnya. Lagi-lagi, susu tersebut juga keluar dari perutnya yang ditikam.

Dalam kondisi Umar yang seperti itu, tiba-tiba datang seorang pemuda dan berkata kepada beliau “Bergembirahlah wahai amirul mu’minin dengan berita gembira dari Allah untukmu, engkau adalah sahabat Rasulullah, pendahulu Islam, engkau adalah pemimpin dan engkau berlaku adil, kemudian engkau diberikan Allah syahadah (mati syahid)," Umar lalu menjawab “Aku berharap seluruh perkara yang engkau sebutkan tadi cukup untukku, tidak lebih ataupun kurang." Tatkala pemuda itu berbalik ternyata pakaiannya terjulur hingga menyentuh lantai (bahasa kerennya isbal_pen).

Umar lantas memanggil pemuda itu dan berkata, “Wahai saudaraku, angkatlah pakaianmu! Sesungguhnya hal itu akan lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih menaikkan ketaqwaanmu kepada Rabbmu”, [Lihat kisahnya di Al-Bidayah Wan Nihayah tulisan Ibnu Katsir].

Di tengah keadaan yang cukup kepayahan menjelang sakaratul maut, Umar masih sempat mengingatkan seorang pemuda tentang gaya pakaiannya. Terdenger remeh memang, tetapi hikmahnya adalah betapa Umar RA tidak pernah menganggap remeh setiap permasalahan pun. Atau justru sebaliknya, justru itulah pesan Umar terakhir yang penting karena biasanya orang banyak berpesan hal-hal yang penting menjelang kematiannya. Barangkali di mata Umar, persoalan pakaian bukanlah persoalan remeh temeh namun juga tetap penting dan perlu diperhatikan. Wallahu a'lam.

Ahmed Fikreatif (Blogger/Narablog)

Peliculas Online

Kisah Pemain NBA Mualaf Yang Anti Hormat Bendera

Tanggal 12 Maret 1996, seakan menjadi sejarah kelam dalam karir Chris Wayne Jackson sebagai seorang pebasket profesional. Pada tanggal tersebut hampir lima belas tahun lalu, Jackson mendapat sanksi larangan bertanding dari NBA, Asosiasi Bola Basket Amerika Serikat. Hukuman ini dikenakan kepada Jackson karena ia tidak bersedia untuk berdiri ketika lagu kebangsaan Amerika Serikat, The Star Spangled Banner dinyanyikan sesaat sebelum pertandingan dimulai. Ketika itu ia memperkuat Denver Nuggets.

Saat itu Jackson beranggapan hal ini (berdiri, red) tidak pantas dilakukan, karena menurutnya bendera Amerika Serikat adalah simbol penindasan. Ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat sendiri mempunyai sejarah tirani yang panjang dan tidak sesuai dengan keyakinannya sebagai seorang muslim.

Sontak, tindakan Jackson yang dinilai kontroversial ini pun menuai protes dari publik Negeri Paman Sam yang berujung pada sanksi larangan bertanding dari NBA. Tapi hukuman skors tersebut hanya berlangsung satu pertandingan. Dua hari kemudian sanksi tersebut dicabut. NBA pun membuat kesepakatan dengan pebasket berdarah Afro-Amerika ini. Sesuai dengan isi kesepakatan tersebut, Jackson tetap harus berdiri pada saat lagu kebangsaan dinyanyikan, tetapi ia diperbolehkan untuk menundukkan kepala dan memejamkan matanya. Abdul-Rauf mengatakan pada saat seperti itu, ia memanjatkan doa.

Selang tiga belas tahun kemudian, dalam sebuah kesempatan saat tengah memberikan ceramah di sebuah masjid di Gulfport, Mississippi, dengan tegas Jackson mengungkapkan bahwa sikapnya tersebut adalah pengejewantahan dari agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. ''Saya memanfaatkan kontroversi itu sebagai alat untuk menjelaskan pada orang lain tentang agama saya,'' tukasnya.

Chris Wayne Jackson lahir di Gulfport pada tanggal 9 Maret 1969. Ia adalah pemain basket NBA di era 90-an. Di masa lalu, Jackson merupakan salah satu point guard paling jempolan. Ia lahir dan dibesarkan di tengah keluarga pemeluk Kristen. Ia mengganti namanya menjadi Mahmoud Abdul-Rauf pada saat ia pindah agama dan memeluk Islam pada tahun 1991.

Sebelum terjun ke NBA, Jackson memperkuat tim basket tempatnya berkuliah di Lousiana State University (LSU). Bersama tim basket kampusnya ini Jackson memiliki karir basket yang cemerlang. Hal ini pula lah yang kemudian mendorong Denver Nuggets, salah satu tim basket profesional NBA, merekrutnya pada tahun 1990. Sejak saat itu karirnya sebagai pemain basket profesional dimulai.

Abdul-Rauf bisa dikatakan sebagai pemain terbaik di klub bakset yang berbasis di Denver, Colorado ini. Ia memperkuat Denver Nuggets hingga musim kompetisi 1995-1996. Pada musim kompetisi 1992-1993, Abdul-Rauf menyabet gelar The Most Improved Player Award, sebuah penghargaan yang diberikan kepada pemain yang dianggap telah menunjukkan perkembangan yang lebih baik dari musim sebelumnya. Saat memperkuat Denver Nuggets ia juga pernah memimpin NBA dalam kategori persentase tembakan bebas (free-throw) terbaik dalam satu musim pada tahun 1994 dan 1996. Ia memiliki rekor 19.2 poin dan 6.8 assist per game pada musim 1995-1996.

Walau akhirnya hukuman larangan bermainnya tersebut dicabut dan hanya diganti dengan larangan bermain sebanyak satu kali pertandingan, tapi tak ayal ia kemudian menjadi pemain paling dibenci di AS. Karir basketnya di AS terancam. Terbukti, tak lama berselang setelah kontroversi lagu kebangsaan Amerika Serikat, Denver Nuggets pun mengakhiri kontraknya dengan Abdul-Rauf. Namun Abdul Rauf tak bergeming dengan keyakinan dan kebiasaannya tersebut.

Meninggalkan NBA

Setelah tidak lagi memperkuat Nuggets, ia sempat bermain untuk tim basket NBA lainnya, Sacramento Kings, sebelum akhirnya ia benar-benar meninggalkan ajang kompetisi bola basket profesional di Amerika Serikat ini. Ia memperkuat Sacramento hanya selama dua musim (1996 hingga 1998).  

Selepas meninggalkan ajang kompetisi NBA, Abdul-Rauf melanglang buana dari satu klub ke klub basket lainnya. Ia pernah bermain untuk klub basket asal Turki, Fenerbahce selama satu musim (1998-1999). Setelah itu ia sempat vakum selama satu musim, baru kemudian ia bermain basket lagi bersama Vancouver Grizzlies, klub basket asal Kanada selama musim 2000-2001. Setelah kontraknya dengan Vancouver Grizzlies tidak diperpanjang, ia memilih untuk berhenti sejenak dari arena basket selama dua musim (2001-2003).

Pada tahun 2003 Abdul-Rauf mengikat kontrak dengan tim basket Rusia, Ural Great Perm, selama satu musim. Setelah itu kemudian ia berturut-turut bermain untuk klub basket asal Italia Sedima Roseto (2004-2005); klub basket Yunani Aris Thessaloniki (2006-2007); klub basket Arab Saudi Al-Ittihad (2008-2009); dan klub basket Jepang Kyoto Hannaryz (2009-2010).

Setelah malang melintang di berbagai ajang kompetisi basket dunia, Abdul-Rauf masih menyimpan keinginan untuk bisa kembali bermain di ajang kompetisi NBA. ''Mungkin saja saya dapat kembali tampil di Amerika Serikat. Pintu mungkin sudah tertutup tapi NBA tak hanya ada di kota dan saya ingin menggunakan talenta yang diberikan Tuhan meski saya hanya bermain di Timbuktu,'' ujar Abdul Rauf seperti dikutip yahoosports awal April 2010.

Keputusannya untuk meninggalkan kompetisi basket NBA, membawa perubahan besar dalam diri Mahmoud Abdul-Rauf. Secara perlahan, ia mulai berkecimpung dalam kegiatan dakwah. Ia membangun sebuah masjid di kota kelahirannya di Gulfport, Mississippi. Bahkan ia pun menjadi imam di masjid tersebut.

Abdul-Rauf berharap, keberadaan bangunan masjid ini akan membawa dampak positif pada generasi muda di Gulfport yang dikenal sangat dekat dengan obat-obatan dan tindak kriminal. Ia pun kerap menyelenggarakan acara yang melibatkan kaum remaja di Gulfport. ''Ilmu pengetahuan bisa membuat seorang budak menjadi raja,'' itulah nasehat yang kerap disampaikan Abdul-Rauf kepada para remaja muslim di lingkungannya.

Dalam setiap ceramahnya, ia juga berpesan pada generasi muda muslim ini untuk menegakkan Islam dimana pun mereka berada dan menuntut ilmu sebanyak mungkin. ''Kita senantiasa melihat pendidikan sebagai bekal untuk mencari kerja demi keamanan finansial. Tapi kita melupakan tujuan utama pendidikan yang seharusnya menjadi bekal bagi seseorang agar bisa bertahan dalam kehidupan,'' ujarnya.
Ia membandingkan pendidikan Barat yang berbasis sekularisme, memisahkan antara negara dengan agama. Menurutnya, pendidikan dalam Islam harus mencakup segala aspek kehidupan. ''Umat Islam tidak bisa menyingkirkan agamanya ke dalam 'kloset','' kata Abdul-Rauf.

Abdul-Rauf juga menguraikan hasil studi yang dilakukan oleh para profesor di Universitas Harvard dan Universitas Yale. Hasil studi itu menunjukkan bahwa anak-anak Afrika memiliki bakat lebih cepat menangkap pelajaran. ''Sejarah membuktikan bahwa orang-orang Afrika dan Muslim adalah para penemu disiplin ilmu modern seperti aljabar dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya,'' tuturnya.[muslimdaily.net/rpk]

Peliculas Online

Kisah Seorang Pelacur Muslimah dan Bid’ah

Kisah ini terjadi pada kisaran tahun 1980an. Singkatnya, ada seseorang yang bekerja di sebuah instansi yang bergerak di bidang pembinaan terhadap wanita-wanita tuna susila di negeri ini. Suatu hari, seperti biasanya dia bertugas mengunjungi tempat-tempat lokalisasi / prostitusi di sebuah kota di Jawa Timur. Namun kunjungan kali ini sangat berbeda dari biasanya. Di tengah-tengah kunjungannya itu, dia mendengar ada bacaan surat Al Ikhlas dibacakan pelan tapi masih terdengar dari balik sebuah kamar.

Mendengar bacaan itu, dia merasa penasaran untuk mencari sumber bacaan itu. Dia datangi kamar penghuni lokalisasi itu untuk melihat siapa yang membaca bacaan surat Al Ikhlas berulang-ulang dengan sangat fasih itu. Setelah mengetuk pintu, ia pun dipersilakan masuk oleh penghuni kamar.

Betapa kagetnya si pegawai itu melihat orang di dalam kamar lokalisasi itu adalah seorang wanita muda yang terbalut dengan jilbab kerudung. Singkatnya, terjawablah sudah pertanyaan si pegawai siapa gerangan yang membaca surat Al Ikhlas berulang-ulang. Si wanita pelacur 'muslimah' berjilbab itulah yang membacanya.

Dengan penuh keheran-heranan dan tandatanya besar, si pegawai pun memberanikan diri untuk bertanya kepada si pelacur muslimah, “Mbak, kenapa mbak melacur?” tanya si pegawai.
Mendengar pertanyaan dari si pegawai, si pelacur 'muslimah' tidak marah. Bahkan ia justru tersenyum tertawa.

Melihat si pelacur justru tertawa, si pegawai bertanya kembali, “Kamu tidak merasa bersalah dengan perbuatanmu ini?” tanya si pegawai, lagi.

“Tidak,” jawab si wanita pelacur itu mantap.

Mendengar jawaban mantap yang keluar dari lisan si wanita pelacur, maka si pegawai pun semakin penasaran untuk menelisik lebih jauh tentang latar belakang si wanita muda pelacur itu.

Singkatnya, tersingkaplah sejarah masa lalu si perempuan itu. Diketahuilah, sejak kecil si wanita itu sudah belajar nmengaji (membaca Al Quran) sejak dini di kampungnya. Dia belajar mengaji di bawah didikan kyai di kampungnya. Setelah lancar dan pintar mengaji, ketika umur 12 tahun, pak kyai di kampungnya itu pun memberikannya ijazah kelulusan karena berhasil mengkhatamkan Al Quran.
Di dalam ijazah itu, juga ada sebuah pesan, “Barangsiapa membaca Al Ikhlas 1000 kali setiap hari akan masuk surgatanpa hisab.”

Pesan itu juga dipesankan secara khusus oleh pak kyai yang memberinya ijazah khatam al Quran.
Selanjutnya sejak saat itu sampai hari itu, ia terus menerus rajin membaca surat al ikhlas setiap malam sebanyak 1000 kali tak pernah putus. Demikian akunya.

“Bagaimana saya harus merasa bersalah? Bahkan, sudah selayaknya saya justru merasa bersyukur kepada Allah karena diberikan pekerjaan yang ringan dan dengan penghasilanya pun lumayan,” jawabnya penuh kemantapan tanpa penuh keraguan.

“Dan saya jelas “min ahlil jannah” (penghuni surga_pen) karena sejak menerima ijazah itu saya tidak pernah tidak membaca qul huwallahu ahad (maksudnya: surat Al Ikhlas_pen) setiap harinya,” pungkasnya.

Terungkaplah ternyata alasannya kenapa ia sama sekali tidak merasa bersalah menjadi seorang pelacur bahkan justru bersyukur karena dimudahkan dalam mencari rejeki adalah karena ia MEYAKINI bahwa dia akan menjadi “ahli jannah” berbekal amalan bacaan surat Al Ikhlas 1000 kali setiap hari. Na'udzubillahi min dzalik.

Hikmah dan ibroh (pelajaran) dari kisah ini adalah bahwa ternyata pengaruh bahaya bid'ah bisa sangat menyesatkan dan mengerikan. Keyakinan si pelacur itu akan kepastiannya masuk surga atas amalan yang tidak berdasar itulah yang justru menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan. Na'udzubillahi min dzalik.

*Kisah ini adalah kisah nyata yang terjadi di Indonesia yang diperoleh dari ceramah ustadz Abdullah Sungkar dengan sedikit mengubah alur cerita namun tanpa mengurangi esensi ceritanya.

Ahmed Fikreatif (Blogger/Narablog)

Peliculas Online